Day Unknown : Aku Aku Aku.. #366blessings



Di Jakarta raya ini, hampir semua adalah perlombaan. Berlomba dengan waktu. Berlomba dalam pekerjaan dan karir. Berlomba dalam pencapaian kehidupan. Dan lainnya. Roda berputar lebih laju di ibukota ini. 

Satu persamaan anak Jakarta, once in our life, kita pernah bersalah dan terjebak dalam ke-aku-an. “Aku lebih dari yang lain.” Bidangnya aja beda-beda. It might not a heavy narcissism, tapi 1x dalam hidup kita pasti kita pernah pengen menang perlombaan itu. Yang pertama sampai di garis finish. Lebih dari seseorang. Sesimpel, aku lebih tau ini dibanding kamu. Atau aku lebih duluan melakukan ini dibanding kamu. Dengan intonasi yang tentunya kontekstual dengan ke-aku-an. 

Mungkin wajar. Proses aktualisasi diri juga mungkin. Kita begitu karena kita pengen di acknowledge keberadaannya. Kalo gue sih bisa maklumin. Yang ga wajar adalah kalau “Aku” muncul terus menerus. Mau jadi pemenang terus. Mau lebih terus. Ini baru annoying. 






Day Unknown : Kita dicundangi #366blessings




Kita selalu bilang,

Kita bertanggung jawab atas nasib kita sendiri. Kita yang menentukan takdir kita sendiri. Kalau kita berteriak cukup keras pada semesta, semua asa akan terjadi. Semua cita akan terpenuhi.

Lalu peradaban kedatangan tamu berukuran mikrometer. Dalam hitungan bulan dunia dibuatnya carut marut. Dagu-dagu yang biasanya terangkat, milik para pentitah semesta, yang mengatur nasibnya sendiri, yang membuat takdirnya sendiri, sudah 4 bulan kuyu bertumpu pada tulang dadanya yang naik turun akibat keresahan tentang masa depan yang sudah pasti tidak pasti. 

Semua manusia paling pintar didunia, paling kaya di dunia, merelakan jam tidurnya untuk mencari exit door dari kewalahan ini. Dan sampai sekarang, cahaya di ujung terowongan ini belum juga terlihat. Manusia dipaksa menyadari limitasi nya dalam mengatur takdir. Manusia dipaksa membangunkan dirinya sendiri dari khayalan bahwa mereka punya kuasa atas segalanya di bumi ini. 

 

Kita semua dicundangi.